Ngomongin hal Konyol gak akan pernah ada habisnya
Suatu ketika om saya pergi ke sungai mencari ikan dan tanpa sadar dia menemukan caping kuno yang dia anggap barang bersejarah, saya kaget kenapa om saya ini suka menganggap sesuatu barang aneh yang dia temukan menjadi barang bersejarah baginya. Kenapa om saya ini seperti orang yang gapernah tau apa arti sebenarnya benda yang bersejarah itu.
"Itu caping pak yusuf om."
saut ku.
Dengan nada yang sedikit bersemangat dia menjawab, kalau caping itu adalah milik petani terdahulu yang meninggal dimedan perang saat terjadi perang dadakan di sawah.
lah?..
saya bingung. kenapa dengan om saya ini. padahal kita udah lama tinggal di desa tepi pantai yang tidak pernah ada sawahnya, dan mayoritas pekerjaan orang orang disini adalah para nelayan yang andal kelaut lepas.
Kenapa om saya beranggapan kalau di daerah ini pernah ada sawah?
"om. dulu pernah bermain disekitar sini bersama teman teman om dan disekitar sini om sering bermain perang perangan dengan teman teman om."
Saya pernah bertanya kepada seorang teman dari om saya yang biasa di panggil ujang. Saya bertanya tentang masa masa kecil om saya kepada dia. om ujang ini orang yang berperawakan tinggi dan kumis yang sudah lebat layaknya orangtua berumur 51 hehe.. padahal umurnya masih menginjak 23 tahun.
Om Ujang menceritakan masa-masa kecil om saya dengan kesal.
kok kesal?.. Ya mungkin dulu om Ujang pernah kalah dalam pertempuran melawan om saya.
om Ujang berkata kalau dia dulu sering bermain bersama om Rusman (Om saya)
"Rusman itu orangnya agak aneh deh kalo lagi main bareng kita kita, dia agak sedikit kasar tapi lucu kalau bermain perang perangan. dan juga dia suka menggoda perempuan saat sesekali gadis desa lewat. benar benar berani. tapi dia juga suka membuat kita jengkel bersama. teringat saat itu kami sedang bermain bersama di depan rumah pak Hilman dan tanpa sepengetahuan kita ,Rusman memecahkan kaca belakang rumah pak Hilman, dengan santainya dia pamit pulang untuk makan karna dia bilang kalau dia sudah mulai lapar, kami bersama mengijinkan dan membiarkan dia pulang dan kami akan tunggu Rusman kembali. Tak lama setelah itu pak Hilman keluar membawa pisau cincang sembari memaki dengan nada yang keras Pak Hilman menuduh kami memecahkan kaca belakang rumahnya dan kami tidak tau apa apa tentang kaca pak hilman yang pecah itu.
setelah kami pikir-pikir kalau yang sudah memecahkan kaca itu adalah si Rusman yang tadi pamit pulang demi menghindari amarah pak Rusman. pintar juga kamu Rusman.. kau pulang dan mengorbankan teman temanmu ini... saya kesal dan amat kesal dengan si Rusman sampai saat ini. bukan hanya itu saja. masih banyak perkara yang telah dia buat dan kita yang kena batunya"
1993, Sore